Pemeliharan Al-Qur’an
Untuk menjamin keutuhan Al-Qur’an, maka Rasulullah berusaha keras dalam rangka memeliharanya, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang kemudian dilanjutkan oleh para shahabat-shahabat setelah beliau, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan lainnya.
Pada periode ini Al-Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf, tetapi masih berupa tulisan yang terpisah-pisah dan hafalan para shahabat. Untuk lebih jelasnya tentang pemeliharaan Al-Qur’an ini adalah sebagai berikut:
a. Pemeliharaan Al-Qur’an di masa Rasul melalui tahapan sebagai berikut:
1) Melalui Hafalan.
Bagi orang yang tidak mampu menulis dan membaca, begitu pula bagi mereka yang mampu dan tahu tentang tulis baca, Nabi selalu menganjurkan agar Al-Quran selalu dibaca baik di dalam maupun di luar shalat, dan Nabi saw. sendiri pun selalu diulangi oleh Jibril dalam jagka waktu satu tahun sekali.
2) Melalui Tulisan
Ini bagi mereka yang tahu tulis baca, sehingga Nabi membentuk dewan yang disebut “Khuttbah” yang artinya penulis wahyu, yang ditulis di atas daun, pelepah kurma, kulit, tulang dan sebagainya.
3) Nabi selalu memperhatikan dan membetulkan tertib urut ayat Al-Qur’an dan hanya dewan penulis saja yang diperbolehkan untuk menulis.
4) Memberi nama tiap-tiap surat dan menambahkan dengan Basmalah.
5) Memanfaatkan tawanan perang yang pandai tulis baca untuk mengajarkan kepada shahabat lainnya.
b. Pemeliharaan Al-Qur’an di masa Abu Bakar dan Umar
Setelah terjadinya perang Yamamah melawan Musailamah Al-Kadzab dan menumpas orang-orang yang enggan membayar zakat, akibatnya banyak penghafadz Qur’an yang gugur di medan perang, hingga mencapai 70 orang. Atas usul Sayyidina Umar bin Khattab maka Abu Bakar melakukan hal-hal berikut:
1) Mengumpulkan ayat-ayat yang ditulis bercerai berai dan kemudian disusunkan kembali.
2) Pengujian secara langsung, lalu diberi nama mush-haf.
c. Pemeliharaan Al-Qur’an Di Masa Ustman Bin Affan
Pada masa Ustman ini, karena timbulnya gejala tentang tidak adanya keseragaman tertib urut surat dan cara membacanya, maka Ustman meminjam mush-haf yang ada di Zaid bin Tsabit lalu disesuaikan dengan mengecek orang-orang yag hafadz Qur’an, setelah itu beliau melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Ayat-ayat Al-Qur’an ditulis dengan tulisan dan ejaan yang seragam.
2) Bila terjadi perselisihan maka ditulis sesuai dengan dialek bahasa Quraisy.
3) Tertib urut surat diatur menurut cara tertentu berdasarkan ijtihad.
Dari hal usaha inilah terbentuk suatu keseragaman baik susunan surat, qira’at, maupun tulisannya. Lalu Ustman membuat lima buah mush-haf, yang satu disimapn di tangan beliau sendiri, dan yang lainnya dibagikan, sementara bagi mush-haf yang selain lima Ustman bin Affan menyuruh untuk membakarnya.
d. Pemeliharaan Al-Qur’an Sesudah Masa Ustman
Karena setelah Ustman ini penyiaran Islam semakin meluas dan banyaknya orang yang mulai memeluk Islam, sehinnga cara membaca mereka terhadap Al-Qur’an banyak yang salah, maka timbulah inisiatif untuk menciptakan titik, maad, sakal, dan sebagainya, diantara mereka itu adalah:
1) Pada masa Bani Umayyah, Ziad ibnu Abihi menyuruh seorang ahi bahasa yaitu Abu Aswad Ad-Duwaly untuk menciptakan sakal dan bentuk titik.
2) Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, Al-Hajjar bin Yusuf As-Sakhofy memerintah kepada Nasher ibnu Ashin dan Yahya bin Ja’mar untuk memberi tanda sakal berupa garis pendek.
Akhirnya munculah Al-Halul Ibnu Ahmad mengadakan perolehan atas tanda-tanda yang diciptakan kedua orang di atas hingga sekarang.