Peradaban Daerah Di Sekitar Semenanjung Arabia.
Jazirah Arab yang terletak di sebelah barat-daya Asia, terbagi atasdua bagian, yakni tengah dan bagian tepi.
Bagian Tengah
Bagian tengah Jazirah Arab terdiri dari tanah pegunungan yang tandus, sebab itu penduduknya hidup sebagai nomaden, yakni mereka hidup berpindah-pindah, mencari daerah yang subur, untuk makan bagi ternak mereka. Penduduka daerah ini dinamakan “Suku Badui” yang mendiami daerah gurun padang pasir. Orang badui ini senang hidup bebas, mereka enggan menetap dan enggan bercocok tanahm.Wilayah ini termasuk didalamnya adalah daerah Najed dan Al-Ahqaf.Karena penduduknya berpindah-pindah ini, maka mereka tidak terkonsentrasi atau tidak tenang untuk menciptakan kebudayaan dan peradabannya.
Penduduk padang pasir ini mempunyai sifat berani, karena memang banyak mengalami kesulitan yang mengakibatkan keberanian tersebut. Tetapi keberanian itu sering disalahgunakan, di antaranya untuk memerangi penduduk yang menetapi daerah subur.Sebab itu, sering terjadi peperangan merebutkan tempat-tempat subur di antara bangsa yang mendiami daerah tengah tersebut.
Bagian Tepi
Dibagian tepi Arabia ini, terdiri dari tanah yang subur karena banyak turun hujan, maka penduduknya bukanlah pengembara, tetapi mereka menetap.Wilayah ini adalah Yaman, Hijaz, Oman, Hadramaut.Karena meraka menetap, maka meraka berhasil menciptakan berbagai bentuk dari kebudayaan, mendirikan kerajaan-kerajaan, diantaranya “Kerajaan Saba” yang terkenal dengan pemimpinya, yakni Ratu Bulqis. Kemudian Kerajaan Himyar, Manadhirah dan Ghassaniyah.
Mengenai negeri Saba’, dijelaskan dalam Al-Qur’an, Surat Saba’ ayat 15, yang artinya sebagai berikut :
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) ditepi tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan disebelah kiri; makanlah olehmu rizki yang dianugrahkan kepadamu dan bersyukurlah kamu kepadaNya.Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”
Penduduk Yaman sudah memiliki system pengairan dengan membuat bendungan-bendungan air untuk mengairi kebun-kebun dan tanah pertanian.Karena bangsa ini kebanyakan adalah para pedagang, maka mereka juga berkunjung ke daratan lain seperti Hindia, Tiongkok dan Sumatra.
Kota Mekkah, diberi julukan Negeri (Ummul Qura), karena kota ini lebih maju disbanding daerah lainnya di bagian wilayah Hijaz, di tepi Jazirah Arab, Seperti penduduk Yaman, penduduk Mekkah pun pada umumnya adalah pedagang-pedagang yang sering berkunjung ke Syam, Habsyi, Persia dan lainnya.
Dalam kehidupan berekonomi, memang bangsa Arab telah maju, begitu pula dalam kehidupan kebudayaan dan peradabannya namun dalam kehidupan moral dan kehidupan agama, meraka mengalami erosi dan kemerosotan yang cukup parah, sebagaimana diuraikan dalam pembahasan yang telah lalu. Karena moral dan mental agama yang merosot itulah, meraka tidak adil, tidak arif, tidak bijaksana, penindas orang lemah, perampok hak azasi manusia.Itulah yang disebut dengan “Jahil atau bodoh, tidak berbudi, dan oleh karenanya jaman itu disebut “Jaman Jahiliyah”.
Mengapa mereka memuja berhala?
Berhala adalah benda, memuja berhala adalah memuja benda, manusia yang memuja berhala adalah manusia syirik. Mereka memuja benda karena mereka mempunyai watak kebendaan yang disebut “Materialism”, yaitu faham serba benda, bahwa benda dapat mencapai kebahagiaan manusia di dunia ini, sehingga mereka juga menganggap wanita itu benda yang dapat memuaskan kaum lelaki. Faham kebendaan ini yang mendorong mereka juga mewujudkan Tuhan mereka dengan wujud benda, yaitu Patung yang dianggapnya dapat member segala macam permohonan mereka untuk keuasan hidupnya.
Sebenarnya bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam, mereka telah memeluk agama Tauhid yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.Karena itu mereka telah mengerjakan ibadah haji. Sebab inti ajaran Ibrahim adalah sama dengan ajaran Islam, yaitu mengajak manusia menyembah Allah semata-mata (Surat Ibrahim : 37).
Kepercayaan terhadap agama Tauhid ini lama-kelamaan berubah menjadi penyembahan terhadap berhala. Menurut riwayat Ibnul Kalbi dalam kitab Al-Ashnam, perubahan kepercayaan itu terjadi karena adanya adat bangsa Arab untuk membawa batu yang diambil dari sekeliling Ka’bah bila mereka akan meninggalkan kota Mekah.
Hal tersebut dilakukan karena mereka sangat mencintai kota Mekah dan Ka’bahny. Maka di manapun mereka berada batu itu, yang mereka bawa dari sekeliling Ka’bah itu, dipujanya sebagaimana mereka melakukan tawaf disekeliling Ka’bah.Kemudian di antara batu-batu yang mereka puja itu dipindahkan disekeliling Ka’abah.Maka penuhlah Ka’bah itu dengan berhala-berhala.Sebenarnya masih ada orang yang tetap mempercayai Tuhan Yang Maha Esa (Allah), tetapi terpengaruh pada pemujaan berhala, sehingga mereka menjadikan berhala itu sebagai perantanya. Sebagaimana dilukiskan dalam Al-Qur’an:
Artinya :
“Kami tidak menyembah mereka, hanya agar mereka (berhala-berhala) itu mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
(Az-Zumar : 3)
Bangsa Arab selain menyembah batu, kayu, juga menyembah matahari, seperti rakyat Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Bilqis, sebelum ratu tersebut memeluk agama Tauhid.
Diantara bangsa Arab, juga ada yang memeluk agama Nasrani, seperti penduduk Najran, Ghassan dan Yaman waktu diperintah oleh raja Habsyah. Agama Tauhid pun masuk ke Jazirah Arab. Di antara pemeluknya adalah sebagian penduduk di Madinah, Khaibar, Walid Qura dan Yaman sewaktu diperintah oleh raja Zy Nuwas, namun demikian orang Arab hamper seluruhnya adalah pemuja berhala ketika menjelang kehadiran Islam di Jazirah tersebut.
Pencinta Syair
Bangsa Arab adalah bangsa pencinta syair, penyair-penyair mereka sangat besar pengaruhnya terhadap masyarakat.Tetapi memang sudah kemasukan faham kebendaan, maka syair mereka itu hanya memuja suku, kenikmatan, kemegahan.Rakyat bangsa tersebut mempunyai kebiasaan menyaksikan pagelaran puisi yang diselenggarakan di pasar-pasar, seperti pasar Ukaz dan Zulmajaz.Biasanya syair atau puisi yang baik itu, mereka gantungkan di Ka’bah dan berhala kebesaran mereka.
Tidak aneh bila mereka pergunakan puisi itu untuk melawan perang urat syaraf atau perang moral untuk membenarkan suatu tindakan yang mereka inginkan.Sehingga ketika datang kebenaran Allah, yakni Al-Qur’an, orang-orang Quraisy memusuhi Islam dengan menggunakan Nabi dan pengikutnya. Oleh karena itu penyair semacam ini adalah orang-orang yang tidak bermoral dan mereka adalah orang-orang yang sesat sebagimana fiman Allah sebagai berikut :
Artinya :
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat”.
Diantara sekian banyak sifat jahiliah tersebut, ada pula sifat bangsa Arab yang positif, yaitu mereka termasuk orang-orang yang murah hati dan sangat menghormati tamunya.