M2KQ, Meraih Cita Dengan Cinta (Merefleksikan Sejarah Dengan Tulisan)

M2KQ, Meraih Cita Dengan Cinta
(Merefleksikan Sejarah Dengan Tulisan)
Oleh Susi Juliani

Di tengah keterpurukan jiwanya, seorang penyair handal sekaliber Kahlil Gibran mampu menghasilkan ratusan karya yang masih diburu banyak orang hingga kini. Rasa cintanya yang ‘meletup-letup terhadap seorang gadis Libanon, mampu menyihir Kahlil menjadi pujangga cinta paling fenomenal dalam jamannya, yang memiliki ruh dalam setiap goresan tulisannya.
Semua dilakukan Kahlil karena cinta. Ya, karena cintalah yang “menyulap” seorang Kahlil dari pemuda yang bukan apa-apa, mernjadi pemuda yang diincar para penggemarnya. Karena dalam konteks cintalah, seseorang mampu bermetamorfosis menjadi ‘manusia baru’ dalam berbagai bidang, termasuk menulis. Nah.
Dalam kasus Kahlil, menulis menjadi telaga pelepas dahaga sebagai ekspresi cinta. Namun, konteks cinta yang ia agung-agungkan adalah rasa kasih untuk sesama manusia.
Tentu akan lain punya ceritanya, jika cinta yang menjadi pendongkrak ghiroh menulis itu, dihakikatkan untuk Sang Pemilik Cinta sendiri, Allah SWT. Dengan hakikat cinta itu, telah banyak juga melahirkan ulama-ulama handal yang memiliki spirit tangguh untuk menularkan ilmu lewat budaya menulis.
Dalam sejarah, kita dikenalkan dengan seolang ulama besar setarap Ibnu Khaldun, Ibnu Shina, Imam Ghozali, bahkan hingga Ibnu Taimiyah yang menggebrak dunia dengan karya-karyanya. Tak hanya itu, spirit untuk terus berkarya ditunjukan Ibnu Timiyah dengan sejumlah karya yang berhasil ia kumpulkan selama masa hidupnya. Tak kurang dari 500 buah karya telah dilahirkan ulama yang dibesarkan di Harran, Turki ini. Bakan dalam 1 x 24 jam, ia mampu membuat empat buah kurrah atau buku kecil. Subhanallah.
Bagi para Mujahid ini, menulis menjadi ladang amal, sebab ia menularkan ilmu terhadap umat. Menulis menjadi ‘lahan empuk’, sebab disana kebenaran digoreskan. Kecintaan terhadap menulis dibangun sedemikian rupa, hingga tertanam kokoh dalam dada. Bagi mereka, menulis – seperti yang dikatakan Umberto Eco— adalah sebuah kewajiban moral.
Tentunya budaya menulis merupakan pertanda keberadaban manusia, jika kita melihat jargon dalam dunia Antropologi seperti yang dikatakan Belb, yakni sebagaimana bahasa membedakan manusia dengan bidatang. Begitupula tulisan, membedakan manusia beradab dengan biadab.
Barangkali berpijak dari situlah –jika kita mencoba menyimpulkan— para penggagas cabang bari di MTQ yang awal mula kelahirannya masih saja ada orang yang mengerutkan kening dan menganggap sebelah mata, berupaya menu,menumbuhkan kecintaan yang sama seperti para pendahulunya untuk mencintai dunia menulis khususnya di kalangan anak muda. Kenapa generasi muda? Sebab ia yang akan menjadi pembuka gerbang sejarah masa depan.
Para “inohong” M2KQ ini, ingin menularkan buncahan cinta terhadap dunia menulis seperti para pendahulunya. Sebab, seperti yang diungkapkan Ibnu taimiyah, bahwa tiga generasi awal Islam, yaitu Rasulullah Muhammad SAW dan Sahabat Nabi, kemudian Tabi’un, yaitu generasi yang mengenal langsung para Sahabat Nabi, dan Tabi’it al-Tabi’un, yaitu generasi yang mengenal langsung para Tabi’un adalah contoh yang terbaik untuk kehidupan Islam. Kecintaan yang haus diwariskan untuk generasi pemegang tampuk kepemingpinan masa depan.
Gagasan ini, untuk pertama kalinya lahir dari buah pemikiran seorang pria lulusan University of Wisconsin, Madison, Amerika. Pa Samuh, panggilan akrab DR Asep Saeful Muhtadi, mencetuskan lahirnya M2KQ karena keinginan kuatnya untuk melahirkan para cendikiawan Muslim masa depan yang menyumbangkan bauah pikirannya dalam memahami problematika umat. M2KQ sebagai sarana bagi mereka yang haus untuk terus belajar ‘mengeja’ Kuasa Tuhan di muka bumi.
Tak jauh beda dengan penggagasnya, Pa Agus, sapaan Agus Ahmad Safei yang juga salah seorang Dewan Hakim dalam cabang ini, membaca M2KQ semacam kendaraan kecil yang sengaja disiapkan untuk kita naiki dalam perjalanana ruhani yang sepi. Melalui M2KQ, setiap peserta, dari kita semua yang membaca karya-karya mereka, diajak untuk melesat masuk ke bilik— dalam kesunyian kita. Disitulah kita memasuki cakrawala yang luar biasa luasnya. Kita diajak untuk menyelami setiap sudut kehidupan melalui teks-teks yang disediakan Tuhan dalam Al Quran. M2KQ mengajak kita untuk menyelam jauh ke dasar samudera, menemukan butir-butir permata, yang akan membawa kita ke taman surga.
Jadi katanya, bertapalah dengan puasa kita. Bersunyilah dengan i’tikaf kita. Mengendaplah dengan lapar dan haus kita. Membeninglah dengan ruku dan sujud kita. Merunduklah dengan segala sepak terjang kita. Bertawadhullah dengan MTQ kita. Melesatlah dengan M2KQ kita.
Nah, itulah ungkapan ekspresi cinta dari seorang yang menyayangi dunia penulisan, khususnya untuk M2KQ. Seseorang yang menyukai kebersamaan bersama Tuhan dalam kesunyian batinnya.
M2KQ memang bergengsi. Bukan karena pelaksanaan lombanya yang terkesan nyentrik, terutama masih bergantung kepada alat konvensional yakni mesin tik, namun karena dari cabang inilah, gagasan-gagasan baru bermunculan untuk kemudian ditularkan kepada masyarakat. Ide-ide kreatif anak muda yang berupaya membaca keadaan umat untuk selanjutnya mengubah keadaan terpuruk yang memprihatinkan.
Bukankah sudah kita buktikan, bahwa sebuah gagasan yang tergores dalam bentuk karya terutama buku, tak akan lapuk dimakan usia. Kitab-kitab para ulama, buku-buku yang hadir sebelum masehi, bahkan keotentikan Al Quran yang masih bisa dinikmati hingga manusia zaman sekarang adalah sebuah karya abadi.

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page