Tabaruk itu adalah mengambil berkah dari sesuatu. Berkah sendiri yang berarti kebaikan, kasih sayang, keberuntungan.
Sedangkan tabaruk menurut Prof.DR.Jalaludin Rahmat yang di kenal dengan Kang Jalal, tabaruk itu adalah mengambil berkah. Tabaruk salah satu ungkapan kecintaan. Jika anda mencintai seseorang, anda akan menganggap apapun yang disentuh orang itu, dan apa pun yang ditinggalkan orang itu, serta apapun yang berkaitan dengan orang itu, punya nilai yang sangat tinggi bagi anda.
Didalam buku yang judulnya Dakwah Sufistik Kang Jalal hal.77, Keberkahan bukan hanya kesembuhan secara fisik, tetapi juga bersifat ruhaniah. Para sahabat juga percaya bahwa keberkahan Nabi bisa menyembuhkan penyakit hati.
Masih dalam buku tersebut, karenanya kalau kita mau makan dianjurkan untuk berdoa. Dalam doa itu kita memohon kepada Allah agar diberi keberkahan dari rizqi yang kita makan, bahkan kita mohon agar kita dijauhkan dari api neraka.
Dari penjelasan tersebut bahwa kita berdoa dengan kalimat: Allahumma baarik lanaa fii maa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaaban naar. Hal ini menunjukkan kita memohon kepada Allah minta berkah dari rizqi yang telah diberikan.
Asy-syihab berkata didalam syarah tentang hal itu, yang di riwayatkan oleh ibnu Sa’ad, yang menunjukan bolehnya mencari berkah dari para Nabi dan orang-orang soleh beserta atsa-atsarnya (bekas-bekasnya) dan apa saja yang ada hubungannya dengan mereka.
Untuk lebih jelasnya konsep berkah dalam pandangan Islam, kita lihat contoh dari perbuatan para sahabat Nabi Muhammad saw dan bagaimana sikap Nabi Muhammad saw atas apa yang dilakukan para sahabat terhadap berkah.
Hadits yang di riwayatkan Al-Bukhari dengan sanad dari Abi Juhaifah, katanya: “Rasulullah saw, telah keluar menjumpai kami pada suatu siang yang panas. Seseorang membawakan air wudlu, kemudian beliau Rosulullah saw berwudlu. Selanjutnya orang-orang mengambil air wudlunya dan mengusap-mengusapkannya ke tubuh masing-masing.”
Dari Abu Musa ra.,: “Nabi saw. memanggil dan meminta satu gelas air kemudian mencuci tangan dan wajahnya dan mengaduk air tersebut. Sabdanya, “Minumlah kalian berdua, lalu habiskan untuk mengusap wajah dan leher kalian.”
Dari ‘Aisyah katanya: “Sesungguhnya kepada Rosulullah saw dibawakan anak-anak agar didoakan keberkahan dan digosok langit-langit mulutnya.” (Musnad Imam Ahmad dan Al-Bukhari)
Imam Muslim mengeluarkan di dalam Shahihnya dengan sanad dari ‘Abdullah pembantu asma’ binti Abi baker, katanya, “Asma’ mengutusku untuk pergi kepada ‘Abdullah bin Umar dan berpesan, “Bawakanlah berita kepadaku bahwa engkau telah memuliakan tiga hal, di antaranya:
Maka ‘Abdullah berkata kepadaku:”Mitsarah ini berbau harum. Berarti ini adalah mitsarah ‘Abdullah apabila baunya harum.”Maka aku kembali kepada ‘Asma’ dan memberitahukan hal itu, lalu dia berkata,” Ini adalah jubah Rasulullah saw.” Lalu dia mengeluarkan jubah model kisra yang berupa selimut bersulamkan benang sutera. Dia berkata, “Benda ini ada pada ‘Aisyah, lalu aku menyimpannya. Nabi saw. memakainya, sehingga kami mencucinya bagi orang-orang yang sakit, dan banyak yang sehat karenanya.”
Di dalam hadits shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari ‘Asma ‘ binti Abi baker yang telah berihram dengan jubah Rasulullah saw. Dia berkata, “Benda ini ada pada ‘Aisyah, lalu aku menyimpannya. Kami mencucinya bagi orang-orang yang sakit untuk menyembuhkan mereka dengannya.
Imam Ahmad meriwayatkan didalam musnad-nya dengan sanad dari Anas ra,:
“Bahwa rasulullah saw. suka masuk ke rumah Ummu Sulaim kemudian tidur di atas pembaringannya sementara dia tidak ada. Kemudian pada suatu hari beliau datang dan tidur di atas pembaringannya. Ketika Ummu Sulaim, datang dia diberitahu, “Ini Nabi saw. Sedang tidur di atas pembaringanmu.” Maka dia pun mendekat. Pada waktu itu Nabi saw. berkeringat. Dia mengusap keringat nabi saw. dengan kain spreynya, lalu membuka botolnya dan memeras sprei tersebut sehingga keringat Nabi saw mengalir kedalamnya. Maka Nabi saw bertanya, “ Apa yang kau lakukan itu, wahai Ummu Sulaim?” Dia menjawab,” Wahai Rosulullah, kami menginginkan berkahnya bagi anak-anak kami.” Maka beliau menjawab, “Benar itu.” (Dikeluarkan pula oleh Imam Muslim).
Didalam Shahih Muslim dikatakan bahwa Rasulullah saw sewaktu dicukur, Rasulullah memberikan rambutnya kepada Abu Thalhah dan bersabda,” Bagikanlah (rambut Nabi saw) kepada orang-orang.”
Di antara yang memperoleh rambut Nabi saw itu adalah Kholid bin Walid. Pada pertempuran di Yamamah, peci Khalid jatuh di tengah-tengah pertempuran. Perang berkecamuk dan pasukan muslimin terdesak. Tiba-tiba khalid ingin kembali lagi, walaupun dicegah oleh kawan-kawannya. Ia memberi tahu kawan-kawannya, bahwa dalam peci itu ada selembar rambut rasulullah saw. Ia tidak ingin rambut itu jatuh di tangan kaum musyrikin. Khalid percaya bahwa karena barokah rambut itulah ia memperoleh kemenangan dalam berbagai pertempuran. Dibenarkan oleh Imam Al-Bukhari dan lain-lain bahwa para sahabat berdesak-desakan didekat tukang cukur Nabi sewaktu beliau sedang memotong rambut di kepala Nabi saw. yang mulia, lalu membagi-bagikan potongan rambutnya.
Di Madinah ada seorang budak perempuan bernama Raudah. Ia bercerita: ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah, tuanku berkata kepadaku: “ Raudah! Berdirilah di depan pintu rumah. Apabila orang itu lewat beriyahu aku.” Ketika Nabi datang bersama rombongan sahabatnya, aku berdiri dan mengambil ujung serbannya. Ia tersenyum dan memandangku dan aku kira ia menyentuhkan tangannya ke atas kepalaku. Aku lapor kepada tuanku: “Ini dia laki-laki yang kau tunggu tuan.” Tuanku keluar bersama semua anggota keluarganya. Nabi mengajak mereka masuk Islam, maka masuk Islamlah semuanya. Sejak peristiwa itu, maka apabila tetangganya membeli budak, khadam (pembantu), pakaian atau makanan, mereka meminta Raudah untuk menyentuhnya. Apapun yang disentuh Raudah mendatangkan berkah.
Telah dibenarkan dari ‘Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi didalam riwayat Imam Al-Bukhari dan lain-lain, bahwa dia berkata benar ketika menasehati orang-orang Qurays sewaktu menjadi utusan mereka kepada Rasulullah saw, dalam perdamain Al-Hudaibiyah:
“Wahai kaumku, demi Allah aku pernah menjadi utusan untuk menghadaap kaisar, kisra, dan Najasyi. Maka aku tidak pernah melihat seseorang yang mengagungkan orang lain sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Muhammad kepada Muhammad. Dia tidak pernah berdahak sampai mengeluarkan liur, kecuali mereka berebut untuk menadahinya di tangan mereka, kemudian disapukan ke wajah dan kulitnya. Dan tidak ada sisa air wudlunya, kecuali mereka berebut untuk mengambil demi mengharapkan berkah darinya.”
Al-Qadhi ‘Iyadh menyebutkan bahwa Malik bin sinan mengisap darah nabi saw, pada hari Uhud. Maka Nabi saw bersabda,: Lan tushiibahun naar artinya “Dia tidak akan disentuh api neraka.”
Seorang wanita meminum air seni Rasulullah saw, lalu beliau bersabda kepadanya, “Engkau tidak akan mengeluh karena sakit perut sama sekali.” (Hadits sahih dikeluarkan oleh Ad Daruquthni. Dan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengeluarkan dalam shahihya).