Berkurban untuk taqarrub kepada Allah dan meningkatkan kepedulian sosial dalam meraih kemulian

1. Arti dan Substansi Berkurban

  • Arti Berkurban:

Berkurban berasal dari kata Arab “qurban” yang berarti mendekatkan diri. Secara syar’i, berkurban adalah menyembelih hewan ternak pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Substansi Berkurban:

Pengorbanan: Berkurban melambangkan ketaatan dan kepatuhan seorang hamba kepada perintah Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya, Ismail AS, atas perintah Allah.

Ketaqwaan: Allah tidak membutuhkan daging atau darah hewan kurban, tetapi yang Allah inginkan adalah ketaqwaan dari hamba-Nya. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj: 37).

Kepedulian Sosial: Berkurban juga merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap sesama, karena daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

2. Makna Taqarrub kepada Allah dan Kepedulian Sosial

Taqarrub kepada Allah:

Taqarrub adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai ibadah dan amal saleh. Taqarrub kepada Allah mengandung beberapa makna:

Ketaatan: Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Ibadah: Menjalankan ibadah-ibadah wajib dan sunnah dengan sepenuh hati, seperti shalat, puasa, dan berzikir.

Keikhlasan: Melakukan segala amal perbuatan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah, bukan karena ingin dipuji oleh manusia.

Kepedulian Sosial:

Kepedulian sosial adalah bagian integral dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya membantu dan berbagi dengan sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Makna kepedulian sosial antara lain:

Solidaritas: Membina rasa persaudaraan dan kasih sayang di antara sesama muslim dan manusia pada umumnya.

Keberkahan: Berbagi rezeki dengan orang lain akan mendatangkan keberkahan dan keridhaan Allah.

Keseimbangan Sosial: Mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi di masyarakat dengan berbagi harta dan bantuan.

3. Perjuangan Meraih Ridha dan Kemuliaan Allah

Meraih Ridha Allah:

Ketaatan dan Ketulusan: Melaksanakan segala bentuk ibadah dengan penuh ketaatan dan ketulusan hati. Ikhlas dalam setiap amal adalah kunci utama untuk meraih ridha Allah.

Istiqamah: Konsisten dalam menjalankan kebaikan dan amal saleh. Menjaga keteguhan hati untuk selalu berada di jalan yang benar meski dihadapkan pada berbagai cobaan dan godaan.

Doa dan Tawakkal: Selalu berdoa memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah serta bertawakkal setelah berusaha sebaik mungkin.

Kemuliaan di Sisi Allah:

– **Akhlak Mulia:** Memiliki akhlak yang baik dan terpuji, seperti jujur, sabar, rendah hati, dan dermawan. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.”

Amal Saleh: Aktif melakukan amal-amal saleh yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82).

Menghindari Maksiat: Menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat yang dapat mengundang murka Allah. Selalu bertobat dan memohon ampunan atas kesalahan yang dilakukan.

Dengan berkurban, taqarrub kepada Allah, serta kepedulian sosial, kita berjuang meraih ridha dan kemuliaan di sisi Allah. Semoga Allah memudahkan kita dalam menjalankan setiap amal ibadah dan menjadikan kita hamba yang dicintai-Nya. Amin.

You cannot copy content of this page