Go to ...

DAI KEMBAR

Dunia Ilmu Pengetahuan Islam dan Umum

RSS Feed

Wasalikul illah atau cara mengetahui illat


WASALIKUL ILLA atau  Cara-cara Mengetahui Illat

Dimaksud dengan cara-cara mengetahui illat, ialah jalan-jalan yang harus ditempuh untuk dapat menetapkan bahwasannya washaf yang ada pada sesuatu adalah illat bagi hukum, hal ini dapat diketahui dengan cara-cara sebagai berikut:

Melihat dan menetapkan nash baik secara langsung atau tidak (Illat masyukh alaiha):

  1.  Illat yang langsung dengan perkataan jelas (Sarihun Nutqy), seperti: “Dahulu saya melarang kamu menyimpan daging kurban, karena banyak orang berkumpul, maka sekarang boleh makan, menyimpan, dan memberikannya”. (HR. Nas’i).
  2. Mengetahui Illat yang tidak jelas (samar) apakah menunjukkan illat atau tidak, tetapi lebih mendekati kepada illat, seperti: “Dirikanlah shalat karena tergelincir matahari” (Al-Isra 78). Dalam ayat di atas terdapat huruf “lam” dalam kalimat “Liduluki”, huruf lam ini kadang-kadang menunjukkan akibat.

Melihat dan menetapkan nash yang tidak langsung menunjukkan Illat, seperti:

  1. Membedakan dua hukum dengan sifat, baik disebut keduanya atau sebagian, seperti: “Bagi barisan perang pejalan kaki mendapat satu bagian sedangkan bagi barisan berkendaraan mendapat dua bagian”. Barisan perang pejalan kaki mendapat satu bagian sedangkan bagi barisan berkendaraan mendapat dua bagian”. (HR. Bukhary dan Muslim). Adapun yang disebutkan salah satu illatnya seperti: “Orang yang membunuh tidak mendapat waris” (HR. Turmudzi). Dalam contoh itu dapat diketahui bahwa orang yang membunuh menjadi illat akan hilangnya waris mewarisi.
  2.  Menyebutkan sesuatu sifat yang dipandang sebagai illat yang berada sebelum adanya hukum, seperti: “Jika kamu dipanggil shalat pada hari Jum’at maka pergilah untuk mengingat Tuhan dan tinggalkanlah jual beli”.(Al-Jum’at). Dalam contoh itu kita melihat, bahwa pergi shalat Jum’at adalah menjadi illat terhadap larangan jual beli. Sebab melakukan jual beli akan melalaikan pergi ke shalat Jum’at. Jadi shalat Jum’at ini dipandang sebagai illat yang berada sebelum adanya hukum bolehnya jual beli pada hari Jum’at. Sedangkan menyebutkan sesuatu hukum yang menyebutkan illatnya sesudah adanya hukum, dapat dilihat contoh berikut: “Janganlah seseorang mengadili dua orang yang berselisih, dan dia sedang dalam keadaan marah” (Al-Hadist). Pada hadist itu dapat dipahami, bahwa illatnya disebutkan setelah adanya hukum, yaitu marah menjadi illat terhadap larangan mengadili. Jadi larangan mengadili itu karena terjadi marah, sedang pada shalat Jum’at yaitu sebelum hukum Jum’at datang jual beli harus ditinggalkan.

Selain beberapa contoh di atas ada juga yang biasa menjadi illat, yaitu:

  1.  Sesuatu pekerjaan setelah terjadinya perbuatan lain, seperti lupa dalam shalat menjadi illat adanya sujud sahwi, juga bercampur dengan istri di bulan Ramadhan menjadi illat adanya pembebasan budak.
  2. Istri yang ditalak ba’in ketika hamil, maka hamilnya menjadi illat terhadap wajibnya pemberian nafkah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin” (At-Thalak 2). Hamil di atas menjadi Illat syarat, sebab jika tidak hamil tidak terjadi pemberian nafkah kepada istri yang telah ditalak.
  3. Kesucian menjadi illat bolehnya mendekati istri, jadi selama istri belum suci tidak boleh mencampuri istri, illat yang bentuknya seperti ini disebut Illat Ghayah.
  4.  Suami yang menceraikan istri sebelum dicampuri, maka istri mendapat mas kawin seperduanya, kecuali kalau dimaafkan oleh istrinya. Jadi memaafkan di atas menjadi illat hapusnya mas kawin. Illat itu disebut Illat Istisna (pengecualiannya).

Secara ringkasnya cara-cara untuk mengetahui illat itu adalah sebagai berikut:

  1. Melihat Nash, yaitu apabila lafadz yang menunjuk kepada illat suatu Nash tidak mungkin menunjuk kepada bukan illat, maka dalalah ini dinamakan “Sharihah Qath’iyah” sedangkan apabila lafadz yang menunjukkan kepada illat mungkin menunjuk kepada yang bukan illat, maka dalalah ini dinamakan “Sharihah Dhanniyah”.
  2. Penetapan Ijma, yaitu apabila para mujtahid sepakat menetapkan illat bagi sesuatu hukum, maka illat itu dipandang sebagai illat hukum dengan Ijma.
  3. Shabar dan taqsim, Shabar maknanya “Menguji”, sedangkan Taqsim artinya “membagi” dengan mengumpulkan segala sifat-sifat yang ada pada peristiwa hukum dan pantas dijadikan illat.

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

    cara mengetahui illatcara mencari illatcara mengetahui illat hukumapa yg dmaksud dgn illat-illatillat ushul fiqhJalan illatMengetahui illat hukumpengertian illah menurut fiqihBagaimana cara mengetahui illatnya suatu hukumpengertian illat

Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Stories From Ushul Fiqih

admin

About admin

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.