Go to ...

DAI KEMBAR

Dunia Ilmu Pengetahuan Islam dan Umum

RSS Feed

Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad


DAI KEMBAR syekh-abdullah-mubarok-abah-sepuh15 Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad  suryalaya tasikmalaya suryalaya   Riwayat Singkat Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad (ABAH SEPUH)

  1. Lahir sekitar tahun1836 di Kampung Cicalung, Desa Bojongbentang Kecamatan Pagarageung, Kabupaten Tasikmalaya.
  2. Ayahnya bernama Rd. Nur Muhammad alias Nurpraja alias Eyang Upas. Ibunya bernama Ny. Emah
  3. Mengikuti pendidikan agama pertama kali di Pesantren Sukamiskin (Kabupaten Bandung). Setelah mendirikan Pesantren Tundangan dekat Kota Tasikmalaya kemudian melanjutkan menambah ilmu, yaitu memperdalam ilmu Tasawuf dan Tariqah kepada Syekh Tolhah di Begong, Kalisapu dan Trusmi di Cirebon selama 23 tahun.
  4. Berkunjung ke Syekh Kholil di Madura sambil menambah ilmu atas anjuran syekh Tolhah.
  5. Mendirikan pesantren Godebag yang kemudian diganti menjadi nama Suryalaya tahun 1905 atas saran Syekh Tolhah.
  6. Diangkat sebagai Wakil Syekh Tolhah kalisapu Cirebon, kemudian ditetapkan sebagai penggantinya sekitar tahun 1900. Pelantikan dilaksanakan di rumah Syekh Tolhah di Trusmi (dekat dengan Pangeran Trusmi putera Sunan Gunungjati).
  7. Tahun 1935 Syekh Mubarok secara definitif sebagai Khalifah TQN di Jawa Barat berkedudukan di Suryalaya-Tasikmalaya
  8. Beberapa kali pergi Haji dan pernah bermukim di Mekah sekalipun tidak lama.
  9. Memilki keahlian dalam bidang pertanian, pengarian dan perkikanan di luar ilmu agama. Irigasi pedesaan sepanjang 2 km berhasil dibangun.
  10. Menjadi guru, pembimbing dan penasehat Bupati Tasikmalaya, Ciamis dan Bandung tahun 1910 hingga tahun 1930 serta para pejabat tinggi pemerintah dan perwira TNI pada masa perang kemerdekaan 1945-1949 dan berlanjut hingga tahun 1956.
  11. Berhasil mengusahakan pembuburan Negara Pesundan dan Republik Indonesia serikat tahun 1950 serta mengembalikan Pemerintah Propinsi Jawa Barat Republik Indonesia dengan dipimpin Gubernur Sewaka.

AMALAN WALI ALLAH

AMALAN WALI ALLAH MURSYID KAMMIL MUKAMMIL

“SYEIKH ABDULLOH MUBAROK BIN NUR MUHAMMAD”


Wirid sehari-hari sholat Rawatib dan sholat sunat lainnya yang di amalkan Wali Allah Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh)/Alm.) di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Beliau begitu luas ilmunya, baik budi pekertinya, sederhana hidupnya dan sangat tekun ibadahnya, diantaranya :

  1. Setiap akan sholat fardlu, beliau selalu sholat Rawatib, yaitu sholat sunat yang mengikuti sholat fardlu lima waktu. Banyaknya ada yang 4 raka’at dan ada pula yang 2 roka’at. Kecuali sholat Ashar dan Shubuh tidak ada ba’diyahnya. Sebelum sholat Rawatib jika masuk masjid, sholat sunat tahiyatul masjid dahulu. Kecuali kalau sholat sunatnya di rumah / di madrasah, beliau selalu sholat Syukrul Wudlu.
  2. Sesudah terbit matahari satu jengkal tingginya kurang lebih jam 06.00 WIB (isyroq), beliau melaksanakan sholat Isyroq, sholat Isti’adzah dan sholat Istikhoroh.
  3. Dari mulai naik matahari kurang lebih pukul 07.00, sembahyang Dhuha yang waktunya sampai pukul 11.00 sebanyak 8 rokaat.
  4. Wirid ba’da maghrib :
    1. Selesai sholat fardlu Maghrib terus awrad (wirid) dzikir Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah sedikitnya 165 kali.
    2. Dilanjutkan dengan wirid Khotaman Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah (setiap malam hari). Lihat kitab “Uquudul jumaan”
    3. Dan kemudian sholat sunat sampai waktu ‘Isya tiba.

Sholat-sholat sunnat antara Maghrib – Isya :

  • § Shalat sunnat ba’da Maghrib…………………………………………..dua raka’at
  • § Shalat sunnat Awwabin (khusus awwabin saja)……. ………….. dua raka’at
  • § Shalat sunnat Awwabin serta Hifdhil Iman………………………. dua raka’at
  • § Shalat sunnat Awwabin serta Istikharah…………………………. dua raka’at
  • § Shalat sunnat Hajat…………………………………………………….. dua raka’at
  • § Shalat sunnat Birrulwaalidaini……………………………………… dua raka’at
  • § Shalat sunnat Halala-Hajati (Saefi)………………………………… dua raka’at
  • § Shalat sunnat Lidafil Bala’i…………………………………………… dua raka’at
  • § Shalat sunnat Ikhlas…………………………………………………… dua raka’at
  • § Shalat sunnat Muthlaq……………………………………………….. dua raka’at

5. Melaksanakan Sholat-sholat sunat di malam hari (Qiyamul Lail):

a.Sholat Tahiyatul masjid kalau masuk masjid dan Syukrul Wudlu, kalau belum kering anggota wudlu dari air wudlunya.

b.Sholat Hajat, karena sholat tersebut lebih baik dilaksanakan pada waktu larut malam.

c.Sholat Tahajjud, sholat utama yang paling utama di malam hari setelah sholat fardlu.

d.Sholat Tasbih, kegiatan sholat malam yang sangat di anjurkan Nabi saw.

e.Sholat witir

d.Dzikir sebanyak-banyaknya paling sedikit 165, sampai terbit fajar.

  1. Riyadloh
    1. 40 malam mandi 40x tiap-tiap malam
    2. 40 melek / tidak tidur
    3. 40 hari berpuasa
    4. 40 hari tidak makan nasi
    5. 40 hari tidak makan garam
    6. 40 hari tidak minum
    7. Dan lain-lain

WASIAT WALI ALLAH

(TANBIH)

WALI ALLAH MURSYID KAMMIL MUKAMMIL

“SYEKH ABDULLOH MUBAROK BIN NUR MUHAMMAD”

TANBIH ini dari Syaekhuna Almarhum Syekh ABDULLAH MUBAROK bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kejembaran Rahmaniyah.

Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria maupun waita, tua maupun muda:

“Semoga ada dalam kebahagiaan, dikarunia Allah SWT kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.

Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemudian dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil, dan makmur dhohir maupun  bathin.

Pun kami tempat orang bertanya tentang  Thoreqat Qoodiriyyah Naqsyabandiyah, menghaturkan dengan  tulus ikhlas, wasiat kepada segenap murid-murid; berhati-hatilah dalam segala hal, jangan sampai berbuat yang berhalangan dengan Peraturan AGAMA dan NEGARA.

Taatilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikianlah sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap hadirat Ilahi Robbi yang membuktikan perintah dalam AGAMA maupun NEGARA.

Insyaflah hai murid-murid sekalian , janganlah erpaut oleh bujuan nafsu, terpengaruh oleh godaan syetan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah AGAMA maupun NEGARA, agar dapat meneliti diri, kalau-kalau tertarik oleh bisikan iblis selalu menyelinap dalam hati sanubari kita semua.

Lebih baik buktikanlah kebajikan yang timbul dari kesucian:

1. Terhadap  orang-orang yang lebih tinggi dari pada kita, baik dhohir maupun bathin, harus kita hormati, beitulah seharusnya hidup rukun, saling harga menghargai.

2. Terhadap  sesame yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah AGAMA dan NEGARA. Kalau tidak, kita terkena firmanNya “ADZABUN ALIM”, yang berarti duka nestapa untuk sela-lamanya dari DUNIA sampai AKHIRAT (badan susah, hati susah)

3. Terhadap orang-orang yang keadaanya dibawah kita, janganlah  hendak menghinanya atau berbuat tidak senonoh bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senantiasa dan gembira hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasihat yang lemah lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan

4. terhadap fakir miskin, harus kasih saying, ramah tamah serta bermanis bui, bersikap murah tanga, mencerminkan bahwa hati sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kudrat Tuhan.

Demikian sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran meskipun terhadap orang Asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam as mengingat Ayat 70 Surat Isro yang artinya:

Sangat Kami  muliakan Adam dan Kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga, Kami mengutamakan mereka lebih utama dari makhluk lainnya.

Kesimpulan dari ayat ini bahwa kita sekalian seharusnya saling harga-mengharagi, jangan timbul kekecewaan, mengingat Suart Al-Ma’ida, yang artinya:

Hendaklah tolong-menolong dengan sesame dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dnegan sungguh-sungguh terhadap Agama dan Negara, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permukaan terhadap perintah Agama maupun Negara.

Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat Suart Al-Kafirun ayat 6 : AGAMAMU UNTUK KAMU, AGAMAKU UNTUK AKU, maksudnya janganlah terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga-menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur.

Cobalah renungkan pepatah leluhur kita: Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan kita sudah demikian, asti: “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna,” karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi  itu adalah  akibat dari amal perbuatan diri sendiri.

Dalam Surat An-Nahl Ayat 112 diterangkan bahwa:

Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan beberapa contoh, yakni tempat maupun kampong, desa maupun Negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya (penghuninya) mengingkari nikmat-nikmat Illah, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri.

Oleh karena demikian,  hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala hal yang ditempuh, guna kebaikan dhohir –bathin, dunia maupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya : “BUDI UTAMA JASMANI SEMPURNA” (Cageur – Bageur).

Tidak lain amalan kita, THOREQAT QOODIRIYYAH NAQSYABANDIYAH, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebajikan, menjauhi segalah dlohir-bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya setan.

Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan DUNIA dan AKHIRAT.

A   m    i    n

Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan

(Syeikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin)

UNTAIAN MUTIARA

1. JANGAN MEMBENCI KEPADA ULAMA SEJAMAN

2. JANGAN MENYALAHKAN PENGAJARAN ORANG LAIN

3. JANGAN MEMERIKSA MURID ORANG LAIN

4. JANGAN MENGUBAH SIKAP WALAU DISAKITI ORANG

5. HARUS MENYAYANGI ORANG YANG MEMBENCI KEPADA KAMU

Wasiat dalam bahasa sunda

TANBIH

Ieu pangeling-ngeling ti Pangersa Guru Almarhum, Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, panglinggihan di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniah. Dawuhanana khusus kangge ka sadaya murid-murid pameget, istri, sepuh, anom, muga-muga sing ginanjar kawilujengan, masing-masing rahayu sapapanjangna, ulah aya kebengkahan jeung sadayana.
Oge nu jadi Papayung Nagara sina tambih kamulyaananan, kaagunganana tiasa nagtayungan ka sadaya abdi-abdina, ngauban ka sadaya rakyatna dipaparin karaharjaan, kajembaran, kani’matan ku Gusti Nu Maha Suci dlohir bathin.
Jeungna sim kuring nu jadi pananyaan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, ngahaturkeun kagegelan wasiat ka sadaya murid-murid poma sing hade-hade dina sagala laku lampah, ulah aya carekeun Agama jeung Nagara.
Eta dua-duanana kawulaan sapantesna samistina, kudu kitu manusa anu tetep cicing dina kaimanan, tegesna tiasa ngawujudkeun karumasaan terhadep agama jeung nagara ta’at ka Hadorot Ilahi nu ngabuktikeun parentah dina agama jeung nagara.

Inget sakabeh murid-murid, ulah kabaud ku pangwujuk napsu, kagendam ku panggoda syetan, sina awas kana jalan anu matak mengparkeun kana parentah agama jeung nagara sina telik kana diri bisi katarik ku iblis anu nyelipkeun dina bathin urang sarerea.
Anggurmah buktikeun kahadean sina medal tina kasucian :

Kahiji : ka saluhureun ulah nanduk boh saluhureun harkatna atawa darajatna, boh dina kabogana estu kudu luyu akur jeung batur-batur.
Kadua : ka sasama tegesna ka papantaran urang dina sagala-galana ulah rek pasea, sabalikna kudu rendah babarengan dina enggoning ngalakukeun parentah agama jeung nagara, ulah jadi pacogregan pacengkadan, bisi kaasup kana pangandika :Adzabun alim”, anu hartina jadi pilara salawasna, tidunya nepi ka akherat (badan payah ati susuah)
Katilu : Ka sahandapeun ulah hayang ngahina atawa nyieun deleka culika, hentau daek ngajenan, sabalikna kudu heman, kalawan karidloan malar senang rasana gumbira atina, ulah sina ngarasa reuwas jeung giras, rasa kapapas mamaras, anggur ditungtun dituyun ku nasehatr anu lemah lembut, nu matak nimbulkeun nurut, bisa napak dina jalan kahadean.
Kaopat : Kanu pakir jeung miskin kudu welas asih someah, tur budi beresih, sarta daek mere maweh, ngayatakeun hate urang sareh. Geura rasakeun awak urang sorangan kacida ngerikna ati ari dina kakurangan. Anu matak ulah rek kajongjonan ngeunah dewek henteu lian, da pakir miskin teh lain kahayangna sorangan, estu kadaring Pangeran.

Tah kitu pigeusaneun manusa anu pinuh karumasaan, sanajan jeung sejen bangsa, sabab tungal turunan ti Nabi Adam a s. Numutkeun ayat 70 surat Isro anu pisundaeunana kieu : “ Kacida ngamulyakeunana Kami ka turunan Adam, jeung Kami nyebarkeun sakabeh daratan oge lautan, jeung ngarijkian Kami ka maranehanana, anu aya di darat jeung lautan, jeung Kami ngutamakeun ka maranehanana, malah leuwih utama ti mahkluk anu sejenna.”


Jadi harti ieu ayat nyaeta akur jeung batur-batur ulah aya kuciwana, nurutkeun ayat tina surat Almaidah anu Sundana.

“Kudu silih tulungan jeung batur dina enggoning kahadean jeung katakwaan terhadep agama jeung nagara, soson-soson ngalampahkeunana, sabalikna ulah silsih tulungan kana jalan perdosaan jeung permusuhan terhadep parentah agama jeung nagara.”

Ari sebagi agama, saagamana-saagamana, nurutkeun surat Alkafirun ayat 6: “agama anjeun keur anjeun, agama kuring keur kuring”, surahna ulah jadi papaseaan “ kudu akur jeung batur-batur tapi ulah campur baur”.

Geuning dawuhan sepuh baheula “ Sina logor dina liang jarum, ulah sereg di buana”. Lamun urangna henteu kitu tangtu hanjakal diakhirna. Karana anu matak tugeunah terhadep badan urang masing-masing eta teh tapak amal perbuatanana. Dina surat Annahli ayat 112 diuynggelkeun anu kieu :

“Gusti Allah geus maparing conto pirang-pirang tempat, boh kampungna atawa desana atawa nagarana, anu dina eta tempat nuju aman sentosa, gemah ripah loh jinawi, aki-kari pendudukna (nu nyicinganana) teu narima kana ni’mat ti Pangeran, maka tuluy bae dina eta tempat kalaparan, loba kasusah, loba karisi jeung sajabana, kitu teh samata-mata pagawean maranehanana”.

Ku lantaran kitu sakabeh murid-murid kudu arapik tilik jeung pamilih, dina nyiar jalan kahadean lahir bathin dunya akherat sangkan ngeunah nyawa betah jasad, ulah jadi kabengkahan anu disuprih “cageur bageur”.

Teu aya lian pagawean urang sarerea Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah amalkeun kalawan enya-enya keur ngahontal sagala kahadean dlohir bathin, keur nyingkahan sagala kagorengan dlohir bathin, anu ngeunaan ka jasad utama nyawa, anu dirungrung ku pangwujuk napsu, digoda ku dayana setan. Ieu wasiat kudu dilaksanakaeun ku sadaya murid-murid, supaya jadi kasalametan dunya rawuh akherat.

Patapan4 Suryalaya, 13 Februari 1956
Ieu Wasiat kahatur ka sadaya akhli-akhli

(Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin)

RANGGEUYAN MUTIARA

1. ULAH NGEWA KA ULAMA SAJAMAN

2. ULAH NYALAHKEUN KANA PANGAJARAN BATUR

3. ULAH MARIKSA MURID BATUR

4. ULAH MEDAL SILA UPAMA KAPANAH

5. KUDU ASIH KA JALMA NUMIKANGEWA KA URANG

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

    contoh rajawaliyullah di indonesiasejarah syekh mubarokcerita syeh mubarok citerasbiografi singkat syekh mubarok bin muhammadsyech abdulloh bin nur muhammadcerita syekh mubarokwali atau syeh dan nur muhammad dan allahsyeikh mubaroksholat sunat halala hajati

Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Stories From

admin

About admin

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.