Go to ...

DAI KEMBAR

Dunia Ilmu Pengetahuan Islam dan Umum

RSS Feed

Pengertian Ma’rifat


MA’RIFAT

 Ma’rifat ialah pengetahuan, mengetahui sesuatu dengan  seyakin-yakinnya atau haqqul yakin, kenal kepada Allah mengenai asma-Nya, sifat-Nya, af’al-Nya dan dzat-Nya.

Dari segi bahasa  ma’rifat dari kata ‘arafa ya’rifu’ ‘irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan atau pengalaman.

Dr. Mustafa Zahri maengemukakan salah satu pendapat Ulama taswuf yang mengatakan: Ma’rifat adalah ketetapan hati wujud yang wajib adanya (Allah) yang mengabarkan segala kesempurnaan-Nya (Mustafa, 1997:251).

Sedangkan dalam kitab sirojut tholibin yang dimaksud dengan ma’rifat adalah empat perkara: a) mengenal diri, b) mengenal Tuhan dan d) mengenal dunia dan akhirat. Yang dimaksud mengenal diri ialah dengan menegakan sifat kahambaan (ubudiyyah) rasa hina (dihadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah megenal Tuhan yang bersifat kemuliaan, ke-Agungan dan Kuasa, dan mengenal diri sebagai seorang yang asing didalam dunia ini hanya sebagai seorang musafir dari dunia menuju akherat, R. Uwaim berkata “ma’rifat bagi seorang ‘arif adalah cermin bila dia memandang dalam ma’rifat / cermin itu tampak nyatalah / tajalli lah Tuhan untuknya”. (KH. Haderanie, th : 33,36)

Pengetahuan ma’rifat objeknya sudah bukan yang eksetoris tapi lebih mendalam kepada esetorisnya dengan mengetahui rahasianya. Abu Yazid mengatakan “Ma’rifat itu adalah mengetahui bahwa gerakan dan diamnya manusia bergantung pada Tuhan” dan bahwa tanpa ijin-Nya orang sedikitpun tak kuasa dan tidak bisa melakukan tindakan apapun, kecuali Dia menciptakan kemampuan untuk bertindak dan meletakan karsa untuk bertindak didalam hatinya, dan bahwa tindakan-tindakan manusia adalah majazi (metaforis) dan bahwa Tuhan adalah sumber yang hakiki. (A-Hujwiri,1993,249)

Orang-oarang Sufi mengatakan:

  1. Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya adalah Allah.
  2. Ma’rifat adalah cermin, kalau seorang ‘arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya adalah Allah.
  3. Yang dilihat orang ‘arif baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanya Allah.
  4. Sekiranya ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecatikannya serta keindahannya dan semua cahaya akan menjadi gelap disamping keindahan cahaya yang gilang gemilang. (Drs.Mustafa, 1984:227-228)

Dilihat dari pengertian diatas, ma’rifat adalah mengenal Tuhan dengan seyakin-yakinnya sehingga yang ada hanyalah wujud hakiki yaitu “terlihat”nya Yang Maha Esa. Jika seorang sufi sudaah mencapai kesana mereka akan mendapatkan kenikmatan dan ketentraman, makanya seorang sufi Syekh Al-Palimbani mengatakan tujuan akhir yang dicapainya didunia ini, menurut dia adalah surga hakikat, barang siapa telah menemukan surga itu niscaya tiada ingat akan surga akherat nanti. (Dr.M.Chotib Quzwazin, 1985;107)

Jalan untuk mencapai ma’rifat  kepada Tuhan ada 3 (tiga) cara keyakinan:

  1. Ilmu Yaqin

Sesuai dengan firman Allah Q.S At-Takasur ayat 5:

Kallaa saufa ta’lamuuna ‘ilmal yaqiin

Artinya:

Janganlah begitu, jika mengetahui ILMUL YAQIN

      2.   Ainul Yaqin

Q.S At-Takasur ayat 7:

            Tsumma latarowunnahaa ‘ainal yaqin

            Artinya:

            “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata / ‘AINUL 

           YAQIN                                                                                           

      3.   Haqqul Yaqin

            Firman Allah Q.S Al-Waqi’ah ayat: 95

            Inhadza lahuwa haqqul yaqin

           Artinya:

            “ Bahwa sesungguhnya ini adalah benar-benar kenyataan / HAQQUL YAQIN

           

            Bentuk ketiga keyakinan diatas bisa diumpamakan seseorang yang melihat asap, maka yakinlah orang tersebut akan adanya (wujudnya) api. Kesimpulan itu diketahui berdasarkan pengetahuan. Dan keyakinan  itu dinamakan ‘ilmul yaqin .

            Namun, boleh jadi asap yang dilihatnya adalah asap yang keluar dari dalam tanah atau asap yang keluar dari dalam air.

Pengetahuan yaqin yang pertama akan wujudnya api masih diragukan, maka diperlukan tindakan yang ke dua yaitu dengan ‘ainul yaqin (mencari keyakinan penglihatan mata), yakni melihat ada api ditempat tadi. Kemudian untuk menyempurnakan keyakinannya dilanjutkan tindakan ke tiga yakni meraba api tersebut. Jika yang ketiga ini sudah dilakukan dan merasakan ada hawa panas sebagaimana yang dimiliki sifat api. Maka orang tersebut bisa meyakini dan membenarkan akan adanya api. Inilah yang dimaksud dengan haqqul yaqin.

            Begitupun untuk mengetahui akan adanya Tuhan dapat diketahui dengan cara diatas yang pertama, ‘ilmu yaqin yaitu meyakini akan adanya Tuhan berdasarkan firman Allah sedangkan ‘ainal yaqin  yaitu mengetahui adanya Tuhan berdasarkan penglihatan alam dan sekitarnya. Dan untuk terakhir haqqul yaqin yaitu mengetahui akan adanya Tuhan Yang Ghaib dengan perasaan yang paling dalam , orang sufi bilang sirr amrun dzuqi . Sebagaimana ungkapan orang sufi: “Man lam yadzuq lam ya’rif” artinya: “barang siapa yang belum merasakan, maka tidak akan mengetahui (mengenal).”

            Pada garis besarnya ma’rifat adalah musyahadah (menyaksikan) atau ru’yat (melihat) Tuhan yang tiada serupa dengan sesuatupun. Namun hal itu bisa dicapai dengan thoriqoh.

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

    siapakah pemegang ilmu gaib itu menurut ulama sufisiapakah dan apakah arti haqqul yakin itu?marifat denga mata ketigamarifat allahmarifatmakrifat dzat sifat asma afalketerangan tntang do a dalam kitab sirojtuttolibinKesimpulan pengertian marifatKajian tentang Marifat yg HAQQUL YAQIINhaji dalam ilmu marifat

Tags: , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Stories From Renungan Sufi

admin

About admin

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.