MAHKUM ALAIH

Yang dimaksud dengan Mahkum Alaih yaitu orang-orang Mukallaf yang dibebani atau yang dikenai hukum.

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang dikenai hukum itu adalah orang-orang muslim yang sudah dewasa, berakal, serta sanggup memahami perintah tersebut dan juga mempunyai kemampuan menerima beban. Oleh karena itu, orang gila  dan anak-anak yang belum dewasa tidak dibebani suatu taklif, demikian pula orang yang dalam keadaan lupa, sedang tidur atau sedang mabuktiak dibebani suatu kewajiban, Karena pada saat itu mereka tidak sanggup memahami Kitab, sebagaimana Rasulullah bersabda:

“Pena itu telah dianggap (tidak digunakan untuk mencatat) dari tiga perkara: 1) Dan orang yang sedang tidur nyenyak, sampai ia bangun, 2) Dan anak-anak sampai dewasa, dan 3) Dan orang gila sampai ia sembuh kembali”. (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Adapun pembebanan wajib zakat, nafaqah dan ganti rugi atas tindakan anak yang belum dewasa dan orang gila, itu sebenarnya bukan pemberian beban kepada para wali mereka.

  1. 1.        Keadaan Manusia Ditinjau Dari Keahlian Wajib dan Keahlian Ada’

Sebagai kebijaksanaan Allah, perintah dan larangannya selalu disesuaikan dengan kemampuan (ahliah) begitu juga Allah mengenakan kewajiban itu dikenakan kepada orang mukallaf, baligh, dan berakal, sedangkan orang yang gila, anak-anak kecil, atau orang yang sedang tidur, tidak dikenai hukuman.

Oleh karena itu datanglah macam-macam kemampuan berbuat dan kemampuan menerima hukum itu, antara lain:

  1. Kemampuan menerima (Ahliyah Wajib) yaitu selama masih ada sifat kemanusiannya, maksudnya: dikenai hukum itu karena sifat kemanusiannya bukan karena mempunyai atau berakalnya.

Maka kemampuan menerima ini bersifat tidak penuh, contohnya bayi yang masih berada dalam kandungan ia tetap dikenai hukum waris meawarisi, walau masih ada dalam kandungan. Di samping kemampuan yang tidak penuh yaitu yang dimiliki seseorang sesudah lahir, ia tetap menerima hak dan kewajiban yang berkenaan dengan harta bendanya, dan yang melaksanakan adalah walinya, karena dirinya tidak ada mempunyai kemampuan dan kecakapan untuk berbuat, masa ini disebut masa sebelum tamyiz.

  1. Kemampuan berbuat (Ahliah Ada’) yaitu pantasnya seseorang untuk dipandang cukup menurut syara dalam melaksanakan hukum itu dan segala perbuatannya dianggap syah, baik yang berhubung dengan hak Allah, seperti shalat, puasa, dan yang lainnya atau yang berhubungan dengan manusia, seperti jual beli.

Kemampuan berbuat di atas datangnya setelah tamyiz, dengan didasarkan kepada adanya akal dan baligh (dewasa) dengan tanda-tanda tertentu.

Di sini ada kemampuan berbuat secara penuh yaitu orang yang sudah dewasa, dan kempuan berbuat secara tidak penuh, yaitu karena belum didukung oleh adanya ilmu pengetahuan seperti anak yang sudah tamyiz.

  1. 2.        Hal-hal Yang Menggugurkan Taklif

Tempat berlakunya hukum Allah dan FirmanNya adalah perbuatan orang mukallaf tetapi hukum Allah dan firmanNya akan tidak berlaku atau dapat menggugurkan taklif disebabkan oleh hal-hal berikut:

  1. Karena tidak mampunya berbuat
  2. Menghilangkan kemampuan tetapi hanya bersifat meringankan, seperti bepergian, sakit dan haid.

Bagi orang gila sewaktu-waktu maka kewajiban selama gila tidak menjadi tuntutan tetapi dari sudut hartanya orang gila tetap diberi hukuman jika merugikan orang lain, sedangkan bagi orang yang tidur tidak dapat menghapuskan hukuman, hanya kewajiban hukum tersebut ditunda sampai ia bangun.

Bagi orang yang mabuk bukan karena masiat maka kewajiban tidak ada dan perbuatannya dianggap tidak sya, tetapi menurut sebagian ahli fiqih, jika mabuknya karena masiat seperti minum arak maka sebagai hukuman dianggap bahwa kecakapannya tidak hilang, karena itu talaknya pun menjadi syah, dan bagi orang yang sedang haid atau nifa, karena tidak menghilangkan kecakapan berbuat, maka diganti pada waktu yang lain.

Jika terjadi paksaan untuk keluar dari Islam, maka jika paksaan itu akan menghapuskan nyawa, hal ini tidaklah jadi persoalan sebagaimana Allah berfirman :

Artinya:

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesuadah dia beriman (dia akan mendapatkan kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (An-Nahl 106)

Pasang Iklan Premium di bawah ini (hub:08777260111390):
Langganan artikel terbaru:

Gratis!Masukan email anda untuk langganan artikel:

Delivered by FeedBurner

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

    kemampuan kemampuan yang harus dimiliki dalam mahkum alaihkemampuan yang di miliki mahkum alaihKemampuan-kemampuan yang dimiliki mahkum alaihMahkum alaihmahkum alaihipengertian mahkum alaihiyhs-fh_lsonsw