PENGERTIAN MURSYID

Mursyid itu adalah guru ruhani yang mengetahui anatomi ruhani kita dengan jelas, dan menghadapkan kita ke hadirat Allah Swt. Agar kita mengenal Allah dengan sesungguhnya.

Mursyid mengajarkan  kita bagaimana cara mendekatkan  diri kepada Allah sekaligus memberi contoh suri teladan yang indah kepada kita bagaimana berakhlak yang baik dan beribadah yang benar secara lahir dan batin atau secara syari’at dan secara hakikat. Seorang guru mursyid begitu penting keberadaannya dalam sebuah thoriqoh. Yang paling utama dengan Guru Mursyid si murid akan mendapatkan talqin (pengajaran/pengijazahan) dzikir atau ba’iat yang tidak bisa dilakukan oleh orang biasa. Sangat berbeda dengan ijazah Amalan Ilmu Hikmah, karena talqin itu suatu proses dimana mursyid memasukan nur nubuwah (cahaya kenabian) ke dalam hati murid. Sekaligus mengajarkan cara berdzikir yang benar dengan metode thoriqoh yang sesuai dengan syari’at Islam.

Mursyid kammil mukammil mampu mengontrol ribuan bahkan jutaan muridnya, tetapi cara mengontrolnya bukan sseorang direktur sedangb mengontrol usahanya, atau seorang presiden mengontrol bawahannya. Kontrol di alam ruhani berbeda dengan dengan alam lahiriyah. Tetapi semua itu kesiapan yang dikontrol.

Tidak ada jaminan, kontrol mursyid pada muridnya membuat murid langsung sadar 100%. Kalau saja muridnya tetap saja mengikuti hawa nafsunya sendiri, bahkan cenderung kepada ambisi duniawinya ataupun lebih mementingkan alasan nafsu pribadinya. Cahaya ruhani mursyid sulit masuk. Sebagaimana rposulullah saw, dahulu,  toh diantara para pengikutnya ada golongan Munafikin, itu berarti hidayah Allah tetap urusan Allah. Para Mursyid tetap mendoakan  muridnya, menyampaikan cahaya ruhaninya, tetapi jika mbandel dan keras kepala, para murid tidak meraih apa-apa. Apalagi muridnya mulai kontra dengan mursyidnya, malah semakin terlempar dalam kegelapan.

BAGAIMANA HUKUMNYA MEMILIKI SEORANG GURU MURSYID?

Ibadah akan sia-sia jika tidak diiringi dengan hati yang penuh dengan cahaya-Nya. Cahaya Allah tidak akan bisa ditangkap dengan hati yang kotor yang penuh dengan kedengkian, kesombongan, dendam dan lain–lain. Hal ini tidak ada cara lain kecuali harus mempelajari tasawwuf yang dibimbing langsung oleh Guru Ruhani yang disebut Mursyid.

Dijelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali: “Seorang murid membutuhkan seorang mursyid , yang membimbingnya pada jalan yang lurus. Sebab jalan keagamaan (kerohanian) terkadang begitu samara-samar, dan jalan syetan begitu beraneka. Barang siapa tidak memiliki mursyid yang menjadi panutannya, dia akan dibimbing syetan kea rah jalannya. Hendaklah ia berpegang teguh kepada mursyidnya bagaikan pegangan seorang buta di pinggir sungai, dimana dia sepenuhnya menyerahkan dirinyabkepada pembimbingnya, serta tidak berselisih pendapat dengannya.”

Dan seluruh ahli thoriqot pun sepakat mewajibkan kepada seluruh manusia harus mencari guru yang memberi petunjuk kepadanya untuk menghilangkan macam –macam sifat yang bisa menjadi penghalang kepadanya dari ma’rifat ke hadrot Allah oleh hatinya. Hal itu dilakukan agar hati menjadi sah dan khusyu, sebab menghadirkan Allah dalam seluruh ibadah. Sedangkan dalam kenyataannya, hati tak akan bisa khusyu kepada Allah tanpa adanya bimbingan. Jadi mencari Mursyid itu hukumnya menjadi wajib. Sebagaimana dalam kaidah ushul fiqih: “Maa laa yatimmul waajib illaa bihi fa huwa waajibun.” Artinya: “Tidak sempurna kewajiban kecuali dengan suatu perkara dan perkara itu hukumnya menjadi wajib.”

Pernah mengatakan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani qs: “Maka wajib bagi semua manusia untuk mencari kehidupan hati seperti untuk kehidupan keakhiratan dari ahli talqin dzikir di dunia ini sebelum datangnya maut.“

Syekh Abi Hasan Asy-Syadzili qs mengatakan: “Barangsiapa yang tidak ikut masuk thoriqot-ku yaitu thoriqot shufiyyah (thoriqot-nya orang-orang ahli tasawwuf) maka ketika mati, orang itu membawa dosa besar karena hukumnya fardlu‘ain. Oleh karena itu, maka wajib untuk pergi mencari seorang guru Mursyid untuk minta talqin dzikir, dan jika sudah menemukan Mursyid yang telah masyhur dalam mengobati muridnya, namun walaupun orang yang mau belajar itu dilarang oleh orang tuanya maka ia wajib untuk berguru.“

Sebagian orang–orang yang telah ma’rifat mengatakan: “Barangsiapa orang yang tidak memiliki bagian ilmu batin ini yaitu thoriqot tasawwuf maka aku takut orang itu jika meninggal dalam keadaan su’ul khotimah yaitu akhir yang jelek karena hati yang kotor.“

Dalam kitab Risalatul Qudsiyyah, Syekh Wahab Sya’roni telah berkata: “Mencari guru thoriqot itu wajib bagi tiap -tiap murid walaupun telah menjadi Ulama besar, karena sesungguhnya tiap–tiap orang yang tidak mendapat dzikir dari guru Mursyid yang memberi petunjuk kepadanya untuk mengeluarkan sifat–sifat yang cacat di hatinya. Maka orang itu telah ma’siyat kepada Allah dan Rosulnya, hal itu dikarenakan tidak mendapat petunjuk jalan untuk mengobati penyakit hatinya walaupun dengan memaksa tetap tidak akan membawa manfaat kalau tanpa Mursyid, walaupun orang tersebut telah hafal seribu kitab.”

Dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 17, Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang ditunjuki Allah, niscaya ia mendapat petunjuk dan siapa yang disesatkan-Nya, maka tiadalah engkau menemukan Wali Ursyid”. Carilah Mursyid Kammil Mukammil yaitu manusia yang paripurna ma’rifatnya dan menghantar yang lain untuk ma’rifat kepada-Nya.

Guru Mursyid memiliki silsilah yang kuat dan sohih, dimana sanad nya (silsilah) sampai kepada baginda Nabi Muhammad saw.

Seorang mursyid memiliki hak prerogratif untuk mengangkat seorang murid menjadi seorang Guru Mursyid atau wakil mursyid setelah murid tersebut lulus menurut “pandangannya,” Semua perbuatan Guru Mursyid selalu berada dalam cahayaNya dan Allah selalu menuntunnya. Biasanya murid yang akan dicalonkan mursyid atau calon wakil mursyid itu telah berhasil melakukan tarbiyyah khusus. Jadi tidaklah dibenarkan murid mengajarkan talqin atau bai’at untuk menanamkan nur nubuwat (cahaya kenabian) kepada murid atau  jiwa orang lain kecuali telah berhasil tarbiyah (pelatihan khusus) dan idzin dari mursyidnya.

Diterangkan dengan jelas oleh Ulama Taswuf dalam kitab Bayanu Tashdiq:

“Tidak boleh memberi ijazah atau talqin dzikir atau bai’at  kepada murid-murid yang lain kecuali sudah ada tarbiyyah, artinya pelantikan dan diberi izin oleh guru mursyid lebih jelasnya Hirqoh Sufiyah dan surat tanda izin atau piagam.”

Dan begitupun para Imam rohimahumullah mengatakan: “ Sudah jelas dan tidak samar lagi bahwasanya barangsiapa yang mulai berani memberikan ijazah talqin dzikir thoriqoh atau tarekat sedangkan dia bukan ahlinya atau tidak ada izin dari mursyidnya, maka orang tersebut lebih banyak merusak dalam thoriqoh jalan menuju Allahnya daripada membuat kemashlahatannya dan murid tersebut terputus dari silsilahnya kepada Nabi Muhammad saw juga otomatis telah keluar dari martabatnya murid yang benar apalagi martabat guru ma’rifat.”

CARI GURU MURSYID?

Untuk menemukan seorang Wali Allah sebagai guru ruhani atau mursyid  yang akan membimbing kita yaitu dengan melakukan istikhoroh memohon petunjuk pada Allah. Mursyid itu seorang Ulama Allah dan pewaris para Nabi yang mengajarkan kesejukan ruhani ajaran Nabi Muhammad saw secara kaffah kepada kita baik lahir maupun batin.

Darimana seseorang diketahui kewaliannya, maka kewaliannya itu biasa dilihat dari tanda-tandanya, dan dari definisi itu sendiri. Wali adalah kekasih allah  dan diantara seorang itu tanda Auliya hidupnya tidak pernah takut dan gelisah, senantiasa hatinya dipenuhi kecintaan full kepada Allah (bukan fisik)ruhnya senantiasa memandang seluruh alam semesta ini dengan pandangan penuh keagungan Allah, dan sirr atau batinnya menjadi hamparan Ma’rifatullah. Itu sekedar tanda, tidak bisa dilihat karena keistimewaan apalagi kehebatan-kehebatanya, karena bisa saja kehebatan yang diluar adat kebiasaan itu karena memiliki Ilmu Hikmah (hasil dari amalan ilmu hikmah) berbeda dengan Karomah (buah dari ketaqwaan dan kikhlasan beribadah kepada allah). Seorang mursyid melahirkan keajaiban atau karomah bukan karena mengamalkan ilmu hikmah tetapi karena  ketaqwaannya atau seluruh pengabdiannya kepada allah baik fisik atau batinnya  begitu ikhlash murni karena allah. subhanallah….

Thoriqoh adalah suatu metode yang diberikan mursyid dalam pencapaian kesempurnaan jiwa menuju Allah, anda bisa memilih berbagai macam thoriqoh yang ada di dunia ini tetapi harus yang mu’tabaroh (sesuai dengan qur’an dan hadits). Apa itu torekat mutabaroh bisa anda lihat atau  kunjungi alamat penjelasannya di http://daikembar.com/thoriqoh

Kriteria seorang Mursyid menurut Syekh Amin Al-Kurdi r.a dalam kitabnya Tanwir Al-Qulub.

  1. Seorang mursyid hendaklah mengetahui hukum fiqih dan tauhid yang diperlukan oleh para pengikut jalan ruhani sekedar untuk menghilangkan ketidak jelasan yang di ajukan oleh seorang pengikut pemula (mubtadi) sehingga ia tidak perlu bertanya kepada yang lain.
  2. Mengenal berbagai kesempurnaan hati, etika-etikanya, wabah dan penyakit penyakit jiwa serta cara menjaga kesehatan dan kesetabilannya.
  3. Bermurah hati dan berbelas kasih kepada kaum muslimin, khususnya kepada murid. Misalnya jika ia memandang murid-murid tak mampu melakukan pengendalian nafsu dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, haruslah ia bersikap arif dan toleran dan tidak membuat mereka putus asa dari melakukan suluk. Ia bergaul dengan mereka dengan rahmah sehingga mereka mendapat hidayah.
  4. Menutup aib para murid yang terlihat olehnya.
  5. Bersih hati terhadap harta para murid, serta tidak tamak terhadap sesuatu yang mereka miliki.
  6. Menyebarkan apa yang diperintahkan Allah dan mencegah apa yang di larangNya dengan kata yang berkesan dalam jiwa dan murid.
  7. Tidak duduk bersama murid muridnya kecuali hanya sekedar yang diperlukan. Ia selalu mengingatkan mereka pada beberapa ajaran thoriqoh dan syari’at, agar mereka bersih dari kejelekan bisikan-bisikan hawa nafsu dan godaan syetan juga agar mereka beribadah dengan cara yangbenar.
  8. Ucapannya besih dari campuran-campuran hawa nafsu, senda gurau yang berlebihan dan sesuatu yang tidak bermanfaat.
  9. Sangat toleran terhadap hak-hak dirinya serta tidak mengharapkan dimuliakan dan dihormati. Ia juga tidak menuntut haknya dari para murid dengan sesuatu yang mereka tidak mampu melakukannya, tidak mempersiapkan amalan-amalan yang membuat mereka jemu.
  10. Jika melihat salah seorang muridnya di dalam hatinya hilang rasa hormat dan wibawa karena banyak duduk dan bergaul bersamanya, dia menyuruhnya duduk berkhalwat ditempat yang tidak begitu jauh dan juga tidak begitu dekat, tetapi diantara keduanya.
  11. Apabila ia tahu bahwa penghormatan kepadanya jatuh dari hati seorang murid, ia mengubahnya dengan penuh kasih sayang, sebab hal tersebut merupakan musuh yang paling besar.
  12. Tidak lalai dalam membimbing murid menuju sesuatu yang dapat memperbaiki kondisi ruhaninya.
  13. Apabila seorang murid mensifati mimpi atau ketersingkapan (mukasyafah) atau penyaksian ghaib (musyahadah) yang didapatinya kepada syeikh, ia tidak membicarakan rahasia yang tersimpanndi balik itu padanya, tetapi memerinya tambahan amalan yang dapat mendorong dan menaikannya pada tahapan ruhani yang lebih tinggi dan lebih mulia. Kapan saja syeikh membicarakan atau menjelaskannya, sungguh hal tersebut dalam hak syeikh merupakan suatu kesalahan, sebab si murid akan memandang dirinya tinggi sehingga tingkatan ruhaninya akan jatuh.
  14. Mencegah murid-muridnya berbicara dengan orang-orang selain ikhwan (saudara sekelompok thoriqoh) kecuali karena darurat. Juga mencegah berbicara dengan ikhwannya mengenai karomah dan hal-hal yang datang kepada mereka. Apabila dalam hal tersebut syeikh bersikap toleran, ia benar-benar melakukan kesalahan sebab membuat mereka arogan dan angkuh sehingga menyebabkan mereka terlambat.
  15. Selalu berkhalwat menyendiri dan tidak mengijinkan seorang muridpun masuk menemuinya kecuali orang yang khusus baginya. Juga berkhalwat dengan cara berkumpul bersama sahabat-sahabatnya.
  16. Sama sekali tidak mengijinkan muridnya melihat-lihat setiap gerakannya, mengetahui rahasianya, mencari tahu tentang cara tidur, cara makan, cara minum dan lain-lain. Sang murid bila mencari tahu tentang hal-hal tersebut, barangkali akan berkurang rasa hormatnya pada syeikh oleh sebab itu kelemahan simurid dalam mengetahui kondisi ruhani orang-orang besar yang sempurna. Apabila syeikh melihat seorang murid memata-mataidirinya guna mencari tahu tentang hal tersebut, dia melarangnya demi kemshlahatan si murid itu sendiri.
  17. Selamanya tidak toleran terhadap murid yang banyak makan, sebab bila toleran dapat merusak segala hal yang sedang ia lakukan bagi si murid, dan dikhawtirkan menjadi seperti banyak orang yang menjadi hamba sahaya bagi perutnya.
  18. Melarang sahabat-sahabatnya bergaul dengan sahabat syeikh lain sebab bahayanya bagi murid sangat cepat. Kecuali bila syeikh  melihat mereka tetap mencintainya dan tidak dikhawatirkan terjadi kegoncangan. Jika demikian adanya maka tidaklah berbahaya.
  19. Menjaga diri dari bolak balik kepada penguasa (umaro) agar tidak dicontoh oleh murid-muridnya. Kalau demikian, ia harus menanggung dosanyadan dosa mereka yang mencotohnya. Sebagaimana dalam hadits dijelaskan: “Barang siapa membuat suatu kebiasaan jelek, maka ia harus menanggung dosanya dan dosa orang yang melakukannya.” (H.R. Musim dan Tirmidzi). Hal demikian, sebab orang yang mendekati penguasa, biasanya akan sulit baginya menyaampaika penolakan jika penguasa melakukan perbuatan haram. Seakan mondar mandirnya ke penguasa memberi legalitas pada kemungkaran.
  20. Pembicaraanya kepada para murid dilakukan dengan cara kasih sayang. Dia sangat hati-hati dari mencaci dan memaki mereka agar jiwa mereka tidak lari menjauh darinya.
  21. Jika diundang oleh salah seorang muridnya, ia memenuhinya  dan melakukannya secara terhormat serta menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik atau bersikap ‘iffah.
  22. Apabila duduk dihadapan murid-muridnya, ia duduk dengan tenang dan berwibawa. Ia tidak banyak melirik mereka, tidak tidur dan tidak membentangkan kaki dihadapan mereka. Ia menahan pandangan dan merendahkan suaranya. Ia tidak menjelekan akhlaknya dihadapan mereka, sebab pada kenyataannya mereka meyakini seluruh sifat-sifat terpuji berada padanya dan mereka akan menirunya.
  23. Jika seorang murid masuk menemuinya, ia tidak bermuka masam. Jika ia berpamitan pulang, ia mendoakan tanpa diminta terlebih dahulu. Sebaliknya, jika ia masuk menemui salah seorang muridnya, ia berada dalam keadaan paling sempurna dan kondisi jiwa yang paling baik.
  24. Jika salah seorang muridnya tidak hadir, ia bertanya tentangnya dan mencari tahu alasan tentang ketidak hadirannya. Jika si murid tadi sakit, ia menengiknya. Jika si murid ada dalam hajat, ia membantunya. Jika si murid gaib karena uzur, maka ia mendoakannya.

SEGERALAH CARI MURSYID KAMMIL MUKAMMIL UNTUK MENGANTARKAN HATI KITA KEPADA ALLOH

Pasang Iklan Premium di bawah ini (hub:08777260111390):
Langganan artikel terbaru:

Gratis!Masukan email anda untuk langganan artikel:

Delivered by FeedBurner

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

    guru mursyidARTI GURU MURSYIDthoriqoh di indonesiapengertian guru mursyidguru pembimbing rohani/guru mursit dalam islamsifat mustahil allah dan penjelasannyamencari guru mursyidguru pembimbing rohani/mursit dalam islammursyid thoriqoharti mursyidpengertian karomahpengertian mursyidmursyid thoriqoh di indonesiaDalil sifat mustahil Allahmursyid artinyapengertian sifat mustahil allahterntang mursyidsifat adampenjelasan sifat mustahil allahdalil sifat mustahil