Go to ...

DAI KEMBAR

Dunia Ilmu Pengetahuan Islam dan Umum

RSS Feed

Kedudukan Sunnah Dalam Hubungannya dengan Qur’an


Kedudukan Sunnah Dalam Hubungannya dengan Qur’an

Para muslimin kecuali golongan kecil menetapkan bahwa sesuatu yang tertib dari Rasulullah yang dinukilkan kepada kita adalah menjadi hujjah serta menjadi sumber tasyri’ dan tempat mengistimbathkan hukum syara’.

Ketika Rasul masih hidup para shahabat menerima hukum Islam dari Al-Qur’an yang diterima dari Rasulullah, tetapi karena Al-Qur’an kerap kali membawa keterangan yang bersifat mujmal, seperti perintah shalat, dengan tidak menerangkan bilangan rakaatnya.

Akibatnya hukum Al-Qur’an tidak akan dijalankan bila tidak diperoleh penjelasan dari hadist (sunnah), untuk mengetahui penjelasan tersebut para shahabat perlu kembali kepada Rasulullah, apalagi banyak kejadian yang tidak ada nash hukumnya dalam Al-Qur’an dengan secara tegas.

Kalau sunnah Bayyinah tidak menjadi hujjah atas orang mu’min, tidak mungkin kita melaksanakan Al-Qur’an dan tidak mungkin dapat mengikuti hukumnya.

Ciri kedudukan sunnah dalam Al-Qur’an adalah:

  1. Al-Qur’an dinukilkan dengan kepada kita dengan jalan mutawatir sedangkan As-Sunnah tidak, As-Sunnah bersifat dhonniah, dan sedikit yang mutawatir.
  2. Sunnah adakalanya menerangkan Al-Qur’an adakalanya menambah hukum yang belum ada dalam Al-Qur’an.
  3. Mensyari’atkan/menetapkan apa-apa yang telah disyari’atkan Allah dalam Al-Qur’an dan mengajak untuk mengikuti Al-Qur’an.
  4. Menerangkan apa-apa yang telah disyari’atkan Al-Qur’an yaitu mentandhihkan yang mujmal, mentakhshiskan yang umum, mentaqyidkan yang mutlak, dan mentabyinkan yang muhtamil.

Ringkasnya, Al-Hadist (As-Sunnah) itu adalah sumber hukum yang kedua bagi hukum Islam, untuk menerangkan segala yang dikehendaki Al-Qur’an.

Allah telah menerangkan kedudukan sunnah dalam hubungannya dengan Al-Qur’an dalam banyak ayat, diantaranya:

Artinya:

“Sungguh Allah telah melimpahkan nikmatnya atas para mu’minin, karena Allah telah membangkitkan dalam kalangan seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membaca ayat-ayat Allah dan membersihkan mereka, serta mengajari mereka Kitab dan Hikmah walaupun mereka dahulunya dalam keadaan sesat yang nyata” (Al-Imran 164).

Para ulama berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan hikmah dalam ayat di atas, adalah “keterangan-keterangan agama yang disampaikan Allah kepada nabi mengenai hikmah dan hukum yang dengan istilah lainnya disebut sunnah.

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

    kedudukan as sunah dalam AlquranPosisi sunnah menambah hukum al-quran

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Stories From Ushul Fiqih

admin

About admin

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.