Go to ...

DAI KEMBAR

Dunia Ilmu Pengetahuan Islam dan Umum

RSS Feed

Kedudukan Qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam


Kedudukan Qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam

Menurut para ulama, qiyas adalah Hujjah Syar’iyah yang ke empat setelah Qur’an, Hadist, dan Ijma bagi hukum-hukum agama yang bersifat amaliah, dan qiyas ini bisa menjadi hukum syara dalam dua keadaan, yaitu:

  1. Apabila hukum Ashal di-nash-kan illatnya, seperti illat yang ada pada hukum asal di-nash-kan oleh hukum syara’.
  2. Apabila Qiyas itu merupakan sebagian dari Qiyas-qiyas yang dilakukan Rasul, karena Rasul berada dalam bimbingan Allah dan Qiyas Rasul itu menjadi hujjah.

Mereka berpendapat demikian didasarkan atas firman Allah;

“Hendaklah kamu mengambil I’tibar hai orang-orang yang berfikir” (Al-Hasyr 2)

Para mufassirin mengatakan, bahwa dimaksud I’tibar yaitu:

“Membandingkan sesuatu dengan yang lainnya”.

Selain itu Allah juga berfirman:

“Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu, lalu jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah (Qur’an) dan Rasul (Sunnah)” (An-Nisa 69).

Perintah mengembalikan kepada Qur’an dan Sunnah yaitu dengan mengqiyaskan kejadian yang telah ada nash hukumnya, baik ayat, hadist, atau ijma’ kepada kejadian yang ada nash hukumnya dalam Qur’an dan Sunnah, terhadap golongan ini para ahli Ushul menamakan Mutsbitul Qiyas (golongan yang menetapkan Kehujjahan qiyas).

Dasar hujjah lain yaitu para shahabat mengqiyaskan jabatan khalifah kepada kedudukan iman dalam shalat termasuk di dalam dalil akal. Perlu diketahui bahwa keadaan dua macam qiyas di atas para ulama sepakat menetapkan bahwa kedua-duanya menjadi hujjah syar’iyah, mengenai qiyas-qiyas selain yang ada di atas para ulama berbeda pendapat, ada yang menolaknya dan ada yang menerimanya sebagai hujjah syar’iyah.

Golongan yang menolak adalah An-Nadzam dan pengikutnya dari madzhab Dzahiriyah dan segolongan dari madzhab Syi’ah, golongan ini dinamakan “Nufaatul Qiyas”, artinya golongan yang mengingkari/menapikan kehujjahan qiyas, mereka menamakan qiyas dengan istilah “Mafhum Muwafaqah” yaitu hukum yang dipahamkan sama dengan hukum yang ditujukan oleh bunyi lafadz.

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

    kedudukan qiyasKedudukan ijma dan qiyas dalam hukum islamfungsi qiyaskedudukan qiyas dalam islamkedudukan qiyas sebagai sumber hukumkedudukan qiyas dalam sumber hukum islampengertian kedudukan dan fungsi qiyaskedudukan qiyas sebagai sumber hukum islamfungsi kiaskedudukan hukum qiyas

Tags: , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Stories From Ushul Fiqih

admin

About admin

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.