HUKUM PUASA MENINGGALKAN DAGING

“Dari ‘Aisyah berkata kepada Urwah :Hai anak laki-laki saudara perempuanku, kita selama waktu dua bulan lamanya sama riyadloh tidak menyalakan api dapur. Kemudian Urwah menyahut: Lantas apa yang engkau sekalian makan dan demikian juga Rasulullah ‘Aisyah menjawab: Yang kita makan hanya dua perkara yang hitam yaitu kurma dan air sumur tanpa dimasak dan tanpa makan daging.”
(H.R.Bukhori).

Hadits yang diceritakan oleh ‘Aisyah tersebut menunjukan riyadloh keluarga Nabi (termasuk diri Nabi sendiri). Dalam riyadloh selama dua bulan atau kurang lebih 60 hari tersebut tidak ada yang dimakan , kecuali dua yaitu kurma dan air sumur. Dan dapat dipahami selama melakukan riyadloh tersebut ‘Aisyah tidak pernah memasak daging dalam arti mereka ternyata sama meninggalkan makan daging.
Pengertian meninggalkan makan daging dalam hadits ini, bukan berarti daging sebagai salah satu makanan halal yang diharamkan untuk dimakan. Namun, makan daging adalah salah satu makanan yang ditinggalkan selama riyadloh saja. Pengertian meninggalkan (tidak dimasak atau tidak makan daging sebagaimana yang telah dilakukan oleh ‘Aisyah dan Nabi) tersebut hanya bersifat “tafdlil” artinya yang “paling baik.” Oleh sebab itu, pegertian meninggalkan tidak mesti mengandung makana haram, berbeda dengan pengertian haram pasti mempunyai makna perkara itu harus ditinggalkan.
Dan seandainya pengertian meninggalkan makan daging dalam hadits tersebut dipahami diharamkan makan daging , maka hal itu akan bertentangan dengan tuntunan syari’at yang dibawa oleh Nabi sendiri, yakni akan berlawanan dengan ketentuan Allah sebagaimana dalam firmannya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah kamu melampui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas.”
(QS: a-Maidah 87)

Dapatlah diambil kesimpulan, bahwa berpuasa meninggalkan makan daging bukanlah berarti mengharamkan daging yang telah dihalalkan oleh Allah. Tetapi perbuatan itu hanyalah bersifat sementara yang mengandung makna “lebih baik” ketika dalam melaksanakan riyadloh sebagaimana yang dialami atau dicontohkan oleh Nabi dan keluarganya .

Ada suatu kisah menarik, salah satu Sufi wanita yang sudah tidak asing lagi yaitu Rabi’ah Al-‘Adawiyyah. Konon, pernah suatu hari Rabi’ah berjalan ke atas gunung. Segera ia dikerumuni oleh kawanan rusa, kambing hutan, ibeks (sebangsa kambing hutan yang memiliki tanduk panjang) dan keledai-keledai liar. Binatang-binatang itu menatap Rabi’ah dan menghampirinya. Tanpa disangka-sangka Hasan Al-Bashri datang pula ketempat itu. Begitu melihat Robi’ah segera ia datang menghampirinya. Tapi setelah melihat kedatangan Hasan, binatang-binatang tadi lari ketakutan dan meninggalkan Robi’ah. Hal ini membuat Hasan kecewa.
“Mengapakah binatang-binatang itu menghindari diriku sedang mereka begitu jinak terhadapmu?”, Hasan bertanya kepada Rabi’ah.
“Apakah yang telah engkau makan pada hari ini?”, Rabi’ah balik bertanya.
“Sup bawang”.
“Engkau telah memakan lemak binatang-binatang itu. Tidak mengherankan jika mereka lari ketakutan melihatmu”.

Kisah Rabi’ah tersebut menunjukan bahwa meninggalkan makan daging itu sudah dilakukan oleh orang-orang dahulu dalam riyadlohnya untuk mencapai tahap selanjutnya menuju Allah. Sebagian Ulama mengatakan bahwa sering makan daging itu akan memiliki sifat panas mudah emosi dan liar sebagaimana binatang.

Wallahu A’lam

kata kunci:

    khodam adalaharti puasa riyadlohhukum berpuasa daginghukum puasa daging di islam